Bukan Hanya Coding, Siswa SMPN 4 Semarang Latih AI untuk Deteksi Berita Hoax di Jateng

Admin/ Januari 3, 2026/ Pendidikan

Kecepatan arus informasi di era digital sering kali membawa dampak sampingan berupa penyebaran berita bohong yang dapat memecah belah masyarakat. Di tengah tantangan ini, sebuah terobosan cerdas lahir dari tangan-tangan kreatif anak muda di Jawa Tengah. Para siswa SMPN 4 Semarang menunjukkan bahwa penguasaan teknologi digital mereka telah jauh melampaui standar dasar. Mereka tidak lagi puas dengan kemampuan bukan hanya coding atau membuat aplikasi sederhana, melainkan sudah melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Secara berkelompok, mereka kini mulai latih AI (Artificial Intelligence) untuk menjadi garda terdepan dalam menyaring informasi yang beredar di masyarakat.

Proyek ambisius ini bermula dari keprihatinan mereka terhadap banyaknya berita hoax di Jateng yang sering kali menyerang tokoh masyarakat atau memicu keresahan sosial. Dengan bimbingan dari mentor teknologi, para siswa SMPN 4 Semarang mengumpulkan ribuan sampel data berupa teks berita, unggahan media sosial, dan pesan berantai yang sudah terbukti salah. Data-data ini kemudian digunakan sebagai bahan latihan bagi mesin pintar yang mereka bangun. Fokus mereka adalah bukan hanya coding untuk membuat tampilan antarmuka yang menarik, tetapi benar-benar mendalami logika di balik pembelajaran mesin agar sistem tersebut dapat mengenali pola bahasa, sumber yang tidak kredibel, dan manipulasi gambar yang sering muncul dalam berita palsu.

Kecanggihan sistem yang sedang dikembangkan ini terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan dialek lokal. Ketika para siswa latih AI tersebut, mereka juga memasukkan kosakata bahasa daerah yang sering digunakan dalam penyebaran berita hoax di Jateng. Hal ini sangat penting karena banyak informasi salah yang beredar dalam bahasa lokal yang sering kali luput dari filter platform media sosial global. Keberhasilan para siswa SMPN 4 Semarang dalam menyempurnakan algoritma ini membuat alat pendeteksi mereka memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi untuk digunakan oleh masyarakat awam sebagai referensi sebelum membagikan informasi lebih lanjut.

Dampak dari inisiatif ini sangat positif bagi literasi digital di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Kemampuan bukan hanya coding yang dimiliki siswa telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial. Masyarakat kini memiliki akses ke alat bantu yang dikembangkan secara lokal untuk memverifikasi kebenaran sebuah informasi.

Share this Post